Lokernez | Updated at: 02:57 |
Susahnya jadi karyawan plus mudahnya jadi pengusaha, mudah-mudahan aamiin! Bahasa baik, optimis adalah doa, iya kan...hhe:) Sedikit mau berbagi mengenai pengalaman bekerja sebagai penerjemah bahasa asing. Saya coba terima tawaran teman SMP, kebetulan juga masih ada hubungan sanak saudara untuk menjadi penerjemah film-film berbahasa asing.

Ada poin plus sebenarnya sewaktu pertama kali di wawancara sama bos nya langsung tanpa via kepala personalia atau semacam HRD. Yah, maklum tempat kerja waktu itu masih level menengah jadi urusan karyawan masih ditangani langsung bos.

Proses wawancara nya pun berlangsung santai. Kurang lebih proses wawancaranya sebagai berikut: "Mas, selama ini kerja dimana?"

"Kerja online, pak." Sambil tersenyum bos nanya lagi, "Apa itu?"

mau jadi pengusaha sukses
"Yah, belajar dikit-dikit di trading forex, kerja online gratis berupa tugas, satu lagi blogging.

"Wah, resikonya gede tuh trading forex?!"

"Hhe...masih belajar trading, jadi hanya pakai modal sedikit dulu, pak."

Saking santai nya cuap-cuap dengan calon bos, saya pun spontan langsung menjelaskan sedikit masalah hobi. "Saya benar-benar hobi translating inggris plus sudah terbiasa di blog maupun di jejaring sosial lewat tulisan ataupun chat, message, dll. Terus terang pak, kalau tidak hobi tidak akan mau sekalipun di gaji puluhan juta per menit..hhe, biasanya kalau hobi kerja bakal sepenuh hati pak."

Eh, calonn bos spontan langsung jawab "to the point" mengenai gaji, "Oh, tenang saja gaji kamu nanti Rp. 3.5 juta sampai Rp. 4 juta per bulan, tapi untuk awal kerja gaji kamu Rp. 2.5 juta, gimana?"

"Yang terpenting bisa mengerjakan semua tugas translating, masalah gaji gak terlalu dipikirkan pak." Ketus saya.

"Okelah, kamu mulai kerja besok yah?"

"Ok, pak!"

Berat hati sebenar nya untuk menerima pekerjaan apapun. Dari awal bekerja jadi "jongos" waiter restoran hotel bintang empat pun sudah menyadari tidak cocok bekerja apapun selama masih di bawah telunjuk bos, diatur kesana kemari, harus disiplin atau tunduk patuh segala macam aturan perusahaan, ndak fleksibel.

Memahami karakter yang masih labil

Nah, dari sinilah mulai teringat buku-buku kesukaan mengenai biografi atau semacam otobiografi para pemilik perusahaan bercerita tentang perjuangan awal pengusaha (zero to hero) para pemilik perusahaan-perusahaan besar. Bahwa garis besarnya untuk menjadi sukses apapun bidangnya dibutuhkan kosistensi, tekad bulat, teguh pendirian, dsb. Tiga hal inilah kekurangan paling fatal masih tergoda dengan hal-hal lain diluar tujuan.

Kesimpulan: pengalaman bekerja menjadi pembelajaran memahami karakter sekaligus semakin menyadarkan diri bahwa ane tidak tidak sempurna (oh jelas..^_^), tidak bisa bekerja di bawah tekanan atasan, aturan, jam kerja ndak fleksible, dsb.

Puji Tuhan Alhamdulillah selain kerja online, ane masih bisa menjual jasa "skill" meskipun masih terbilang sedikit: service hardware/software PC, notebook, playstation, handphone, dll. Ke depannya mudah-mudahan bisa membuka grosir atau distributor elektronik, sekaligus membuka lahan/tempat khusus untuk observasi berkenaan dengan dunia elektronik dan teknologi tentunya. Aamiin.